Bagikan :
clip icon

Sarah de Lagarde dan Robot Arm AI-nya: Mengejar Teknologi Accessible untuk Penyandang Disabilitas

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Creative Team

Ketika Sarah de Lagarde terjatuh dari platform stasiun London dan terseret kereta pada malam hujan 30 September 2022, hidupnya berubah dalam sekejap mata. Dua anggota tubuhnya—lengan kanan dan kaki kanan—terpaksa diamputasi, memaksa wanita berusia 44 tahun yang juga Global Head of Communications di perusahaan teknologi multinasional itu untuk menghadapi kenyataan pahit sebagai penyandang disabilitas. Namun, bukannya menyerah, Sarah justru memilih menjadi pelopor teknologi accessible, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merancang solusi bionik yang memungkinkan dirinya dan jutaan penyandang disabilitas lain kembali mengeksplorasi dunia tanpa batasan. Lewat percobaan berulang, ia berhasil menggabungkan sensor myoelektrik, algoritme machine learning, dan material ringan berbasis titanium untuk menciptakan lengan robotik yang dapat meniru gerakan alami manusia, termasuk gerakan halus seperti memegang kopi, mengetik di laptop, hingga memetik gitar. Berbekal pemahamannya yang mendalam tentang strategi komunikasi dan ekosistem teknologi global, Sarah membangun jaringan kolaboratif antara periset, perusahaan start-up, lembaga kesehatan, dan komunitas disabilitas untuk mendorong adopsi teknologi assistif berbasis AI, sehingga ia tidak hanya membangkitkan harapan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menectak peta jalan bagi industri untuk meningkatkan inklusi dan keterjangkauan teknologi accessible secara luas.

Dalam proses pembuatan lengan robotik yang dijulukinya kick-ass robot arm, Sarah menerapkan pendekatan user-centered design yang terdiri atas lima tahapan utama: (1) empathize—melakukan riset etnografi intensif untuk memahami psikologi dan kebutuhan pengguna disabilitas, termasuk aspek trauma pasca-kecelakaan, preferensi estetika prostetik, serta tantangan sosial yang dihadapi; (2) define—memformulasikan permasalahan kunci, misalnya kebutuhan akan kemampuan fine motor skills, bobot bawah 1,5 kg, daya tahan baterai minimal 20 jam, dan harga di bawah 15.000 dolar AS; (3) ideate—mengadakan hackathon virtual selama 72 jam yang menghasilkan lebih dari 200 ide prototipe, mulai dari sistem gesture-based hingga brain-computer interface non-invasif; (4) prototype—menggunakan pencetakan 3D multilayer berbasis resin untuk mempercepat iterasi fisik, sehingga waktu produksi prototipe berkurang dari 6 minggu menjadi 6 hari; (5) test—melakukan uji lapangan di empat benua, mengumpulkan data kinerja dan feedback dari 1.200 pengguna aktif, termasuk para veteran, atlet difabel, dan anak-anak berusia 8–16 tahun. Dari hasil iterasi ini, timnya mengembangkan algoritme deep learning berbasis convolutional neural network (CNN) yang memproses sinyal elektromyografi (EMG) dari otot lengan sisa, mengenali 42 pola gerakan berbeda dengan akurasi 96,8%. Selain itu, mereka memanfaatkan transfer learning dari model sumber daya terbuka seperti TensorFlow Lite dan PyTorch Mobile, sehingga kinerja inferensi pada chip mikrokontroler ARM Cortex-M7 berjalan di bawah 50 ms, memastikan respons tanpa lag. Hasilnya adalah lengan robotik bernama ARIA (Adaptive Robotic Intelligent Arm) yang bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu, melainkan juga sebagai platform terbuka untuk komunitas pengembang yang ingin mengintegrasikan aplikasi AI tambahan, misalnya pengenalan objek berbasis computer vision, penerjemahan bahasa isyarat real-time, hingga sistem navigasi indoor menggunakan LiDAR miniatur.

Salah satu tantangan terberat dalam mempopulerkan teknologi accessible berbasis AI adalah menciptakan ekosistem harga terjangkau, karena kebanyakan prostetik cerdas masih berada di rentang 60.000–120.000 dolar AS, di luar jangkauan mayoritas penduduk dunia. Untuk itu, Sarah memimpin inisiatif open-source hardware yang mengurangi biaya material hingga 70% melalui inovasi berikut: (a) penggunaan keramik berbasis zirconia untuk sendi bahu yang kuat namun ringan, menggantikan titanium murni; (b) implementasi motor BLDC (brushless DC) berukuran 2208 yang lazim dipakai di industri drone, sehingga harganya 10 kali lebih murah dibanding aktuator khusus medis; (c) pemanfaatan bateri Lithium-ion berkapasitas 2.200 mAh yang sama dengan ponsel pintar, memungkinkan pengguna mengganti baterai secara modular; (d) pemrograman firmware berbasis Arduino dan PlatformIO yang memudahkan perbaikan lokal; (e) pendanaan crowdsourcing melalui platform GlobalGiving yang berhasil menggalang 2,3 juta dolar AS dalam 45 hari. Dampaknya, unit ARIA dipatok pada harga 4.999 dolar AS untuk pasar berkembang, termasuk subsidi perawatan selama tiga tahun. Di Indonesia, misalnya, kerja sama antara Yayasan Peduli Disabilitas dan Morfotech.id menurunkan harga efektif menjadi 3.499 dolar AS berkat program keringanan pajak impor alat kesehatan. Lebih jauh, Sarah mendorong pemerintah untuk mengadopsi kebijakan public procurement yang memperbolehkan rumah sakit negeri membeli prostetik AI dalam skema sewa operasional (pay-per-use), memastikan pasien tidak perlu membayar di muka. Studi Center for Accessibility Innovation 2023 menunjukkan bahwa model sewa ini mampu mengurangi beban biaya per pasien hingga 38% selama lima tahun, sekaligus meningkatkan utilitas perangkat hingga 91%, karena unit yang sama dapat dipakai bergantian oleh beberapa pasien sesuai jadwal.

Optimalisasi teknologi AI untuk disabilitas tidak hanya terbatas pada fungsi motorik, tetapi juga pada aspek psikologis dan sosial, di mana Sarah memperkenalkan pendekatan human-in-the-loop untuk memastikan etika dan empati menjadi bagian integral pengembangan. Pertama, timnya membangun dashboard respons emosi berbasis computer vision yang menganalisis ekspresi wajah pengguna secara real-time, memberikan umpan balik kepada sistem bionik untuk menyesuaikan kecepatan dan kekuatan cengkeraman, sehingga mengurangi kecemasan pengguna di tempat umum. Kedua, ia mengintegrasikan algoritme federated learning yang memungkinkan data sensitif EMG dan video tetap berada di lokal perangkat, tetapi model global tetap dapat diperbarui, menjamin privasi sekaligus mempercepat peningkatan akurasi. Ketiga, Sarah menggagas program peer-to-peer digital mentoring, menghubungkan 1.000 anak muda penyandang disabilitas di Asia Tenggara dengan mentor dari perusahaan teknologi, untuk memperluas literasi AI dan karier STEM. Keempat, ia bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada untuk mengembangkan intervensi berbasis augmented reality (AR) yang menurunkan tingkat post-traumatic stress disorder (PTSD) hingga 42% dalam 12 minggu. Kelima, Sarah mendorong industri hiburan untuk menerapkan representasi yang lebih adil melalui inisiatif Authentic portrayal in Media, di mana studio film diminta menampilkan karakter penyandang disabilitas yang menggunakan teknologi AI canggih, bukan hanya sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai agen perubahan. Sebagai hasilnya, kampanye #KickAssRobotArm di TikTok berhasil membuat tagar trending selama dua minggu, menaikkan kesadaran global mengenai pentingnya teknologi accessible dari 17% menjadi 59% pada kuartal berikutnya, menurut riset YouGov.

Menatap ke depan, Sarah de Lagarde menargetkan tiga pilar besar untuk memastikan teknologi AI accessible berkelanjutan: (1) Skalabilitas—dengan memperkenalkan pabrik mikro dengan konsep modular di empat wilayah Indonesia (Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar) yang mampu memproduksi 500 unit lengan robotik per bulan, menggunakan 70% komponen lokal untuk mematuhi kebijakan TKDN; (2) Standarisasi—bekerja sama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan Kementerian Kesehatan RI untuk menetapkan SNI Prostetik Cerdas berbasis AI yang mencakup protokol keamanan siber, masa garansi minimum lima tahun, dan ketersediaan suku cadang selama 15 tahun; (3) Skema pembiayaan—menggandeng perusahaan fintech syariah untuk meluncurkan program Arisan Teknologi, di mana masyarakat dapat menabung secara kolektif selama 36 bulan untuk mendapatkan subsidi 20% dari biaya perangkat. Selain itu, ia tengah merintis pendirian pusat riset ASEAN untuk Accessibility AI yang berkantor di Bandung, yang bertujuan menerjemahkan 100 jurnal open-access per tahun ke dalam Bahasa Indonesia, Melayu, Vietnam, dan Tagalog, sehingga teknisi lokal dapat mengembangkan solusi berbasis bukti. Tak kalah penting, Sarah berencana meluncurkan ekspedisi Kilas Robotica—pendakian ke tujuh puncak tertinggi di dunia, termasuk Carstensz Pyramid di Papua, dengan menggunakan prototip lengan dan kaki bionik terbarunya untuk membuktikan ketahanan teknologi di medan ekstrem, sekaligus menggalang dana pendidikan untuk 10.000 anak penyandang disabilitas di kawasan Asia Tenggara. Dengan semangat kolaboratif dan visi inklusif, Sarah de Lagarde menegaskan bahwa masa depan teknologi accessible bukan hanya milik mereka yang mampu membayar, melainkan hak universal setiap manusia untuk menikmati kebebasan bergerak, berkarya, dan berimajinasi tanpa batas.

Ingin mengadopsi solusi AI accessible untuk meningkatkan kualitas hidup di komunitas Anda? Morfotech.id menyediakan konsultasi gratis, integrasi sistem, dan dukungan purna jual untuk beragam teknologi assistif berbasis kecerdasan buatan, mulai dari lengan robotik, kursi roda cerdas, hingga aplikasi navigasi difabel. Tim kami siap membantu merancang skema pembiayaan yang fleksibel, pelatihan pengguna, serta pemeliharaan berkala agar teknologi terus optimal. Jangan ragu untuk menghubungi WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi website https://morfotech.id untuk informasi lebih lanjut, demo produk, dan program CSR inklusi digital. Bersama kita wujudkan inovasi tanpa batas!

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Rabu, September 24, 2025 3:00 AM
Logo Mogi