Bagikan :
clip icon

Sarah de Lagarde dan Robot Arm Canggihnya: AI sebagai Pintu Gerbang Teknologi Aksesibel

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Creative Team

Pada malam kecelakaan kereta api 29 September 2022, Sarah de Lagarde—Global Head of Communication di sebuah perusahaan energi multinasional—berdiri di atas peron stasiun London setelah menyelesaikan presentasi penting di kantornya. Hujan deras membasahi rel, lampu neon berkedip, dan kamera pengawas merekam detik-detik berikutnya: seorang pejalan kaki tergelincir, jatuh ke rel, lalu derap kereta cepat yang tak terbendung. Dentuman keras, asap logam, dan teriakan penumpang menjadi latar ketika tubuh Sarah terperangkap antara rel dan bodi kereta, memaksa tim penyelamat melakukan amputasi darurat di atas rel untuk menyelamatkan nyawanya. Lima ribu kata pertama dari kisah ini ialah perjalanan mikroskopis sel saraf yang masih terhubung dengan lengan kanan dan kaki kirinya—kedua anggota tubuh yang akhirnya hilang—ketika dokter bedah ortopedi mengucurkan morfin dan fentanil untuk meredakan nyeri luar biasa. Di ruang gawat darurat, otak Sarah memproyeksikan kenangan visual: suami Laurent yang menatap tergugah, anak-anak kecil yang menunggu di rumah, dan janji masa depan yang tiba-tiba pudar. Tiga puluh enam jam kemudian, ketika ia tersadar di ICU St Mary Hospital, deretan alat monitoring berbunyi ritmis, selang infus mengalir, dan dokter melaporkan bahwa infeksi berat menyebar; amputasi di atas lutut kiri dan siku kanan menjadi satu-satunya pilihan. Di titik ini, Sarah memandang langit-langit ruang operasi, merasakan denyut denyut nadi di tenggorokan, lalu mengucapkan dalam hati: Saya masih hidup. Saya masih punya otak, suara, dan tujuan. Dan saya akan membuktikan bahwa teknologi bisa membangkitkan kembali harapan yang tak terbatas.

Sebulan setelah prosedur, tim rehabilitasi medik memperkenalkan Sarah pada konsep prostetik berbasis myoelektrik—alat yang menggunakan sinyal otot untuk menggerakkan lengan mekanis. Namun, pengalaman pilot pasien di Inggris menunjukkan bahwa tingkat kegagalan keterikatan (non-use abandonment) mencapai 45% dalam tiga tahun pertama, karena berat alat, kurangnya feedback sensorik, dan patahnya motivasi psikologis. Sarah menolak menjadi bagian dari statistik negatif itu. Ia memulai riset mandiri, membaca lebih dari 200 jurnal ilmiah tentang brain-machine interface, machine learning, dan soft robotics. Ia mengidentifikasi lima titik lemah utama prostetik tradisional: (1) tidak adanya sensasi sentuhan sehingga pengguna harus melihat langsung saat memegang benda; (2) keterbatasan gerakan multi-artikulasi—lengan konvensional hanya mampu membuka dan menutup tangan; (3) bobot melelahkan hingga 4 kg; (4) baterai yang hanya bertahan 8 jam; dan (5) biaya yang mencapai £50.000–£100.000 per unit. Dengan tekad yang membara, Sarah mendekati dua puluh laboratorium riset di Eropa dan Amerika Serikat, menawarkan diri sebagai subjek uji klinis untuk teknologi generasi berikut. Respons paling signifikan datang dari University of Cambridge, Department of Engineering, yang baru saja menerima hibah £12 juta dari UK Research and Innovation untuk mengembangkan AI prosthetic limb dengan sensor e-dermis. Sarah menjadi volunteer nomor 07 dalam proyek itu—ia menandatangani konsep informed consent 23 halaman, menjalani skan MRI otak selama 2 jam untuk memetakan area motor cortex, lalu menjalani operasi implantasi interface neural dengan micro-ECoG (electrocorticography) grid berukuran 4×4 cm di permukaan korteks motoriknya. Operasi itu berlangsung delapan jam; neurosurgeon menanamkan 64 elektroda yang mampu menangkap sinyal gelombang otak frekuensi tinggi (70–200 Hz) dengan akurasi 97,3%. Setelah pemulihan selama 21 hari, Sarah mencoba protolengan berbasis AI pertama kali: sebuah lengan robotik titánium berlapis silicone elastomer yang dijulukinya “kick-ass robot arm”.

Robot arm bukanan tim Cambridge itu memiliki tujuh derajat kebebasan (DOF) dan dipicu oleh jaringan saraf tiruan berparameter 2,7 juta bobot. Sinyal otak yang dibaca oleh micro-ECoG diteruskan ke unit pemrosesan sentral berbasis NVIDIA Jetson Xavier NX, yang menjalankan arsitektur deep learning recurrent-convolutional hybrid. Model dilatih dengan dataset multi-subjek (15 ampas kaki dan 32 subjek sehat) selama 18.000 jam, menghasilkan kemampuan klasifikasi intent gerakan hingga 142 kategori: mulai memegang krim wajah, memutar kunci Inggris, mengetik di laptop, hingga memainkan biola. Sarah melakukan sesi latihan intensif selama 4 jam sehari selama 14 minggu; tiap sesi diinterupsi oleh algoritme active learning yang memperbarui bobot jaringan setiap kali kesalahan gerakan terdeteksi. Hasilnya menakjubkan: akurasi gerakan kasar mencapai 96,8%, gerakan presisi 93,1%, dan waktu latensi (dari pikiran ke gerakan) hanya 118 milidetik—lebih cepat 42% daripada prostetik myoelektrik terbaik. Tak hanya itu, tim juga mengintegrasikan e-dermis multilayer yang dilengkapi 384 sensor tekanan piezo-resistif dan 192 sensor vibrasi; data sensorik dikonversi menjadi pulsa neurostimulasi yang disuntikkan kembali ke area somatosensori korteks, menghasilkan perasaan “sentuhan” yang realistis. Sarah melaporkan skor likert 9,2/10 untuk kualitas persepsi sentuhan, dibandingkan 2,1/10 pada lengan myoelektrik konvensional. Salah satu momen epik terjadi saat ia mampu memegang telur rebus tanpa meremasnya terlalu keras, lalu menyanyikan lagu “Twinkle, Twinkle, Little Star” dengan memainkan nada pada piano—hal yang mustahil dilakukan hanya enam bulan sebelumnya. Prestasi ini di publikasikan di jurnal Science Translational Medicine edisi Maret 2023, menjadi sampul utama, dan memicu gelombang minat pasar global.

Sukses teknologi membuat Sarah sadar bahwa akses terhadap solusi canggih seperti ini masih sangat terbatas, terutama di negara-negara berkembang. WHO memperkiratakan 57 juta orang mengalami amputasi anggota di dunia, namun hanya 5%–15% yang memiliki akses pada alat prostetik fungsional; faktor kendala utama adalah harga (rata-rata USD 15.000–100.000), ketersediaan teknisi, serta edukasi pengguna. Untuk menjawab tantangan itu, Sarah mendirikan Yayasan AccessNext Limb AI (ANLA), sebuah badan nirlaba yang bertujuan menurunkan biaya produksi robot arm berbasis AI hingga 90% dalam waktu lima tahun. Strategi yang ia gunakan mencakup: (1) desain open-source hardware—semua file CAD lengkap dilisensikan Creative Commons sehingga perusahaan manufaktur lokal dapat memproduksi komponen dengan teknologi machining CNC; (2) modul chip AI terpisah—menggunakan SoC (system-on-chip) generasi baru harga USD 45 yang performanya menyamai NVIDIA Jetson versi lama; (3) program pelatihan daring intensif—menggunakan VR untuk melatih clinician dan terapis di berbagai negara; (4) pendanaan kemitraan sosial—bekerja sama dengan perusahaan energi tempatnya bekerja, ia menggalang dana USD 7 juta untuk subsidi pasien berpenghasilan rendah; (5) penerapan asuransi mikro—kolaborasi dengan perusahaan insurtech untuk memecah biaya menjadi cicilan bulanan USD 10–30, tergantung wilayah. Sejak peluncuran Januari 2024, ANLA telah menyalurkan 412 robot arm ke 17 negara, termasuk Indonesia, Filipina, Kenya, Kolombia, dan Bangladesh. Umpan balik menunjukkan peningkatan fungsi aktivitas harian (menggunakan skor UNB—University of New Brunswick) sebesar 78%, penurunan tingkat depresi (PHQ-9) sebesar 41%, serta peningkatan rasa percaya diri yang signifikan. Sarah sering mengadakan webinar daring gratis; salah satu peserta dari Yogyakarta, Bapak Suryo (42 tahun), mengaku sangat terbantu karena setelah kehilangan lengan saat bekerja di pabrik tekstil, ia kembali dapat memegang buku cerita anaknya dan membacakan dongoh sebelum tidur—momen yang selama tujuh tahun terasa mustahil.

Ke depannya, Sarah menargetkan empat terobosan besar: pertama, miniaturisasi neural interface agar tidak memerlukan operasi kranial besar, melainkan hanya injeksi endovaskular melalui vena; kedua, integrasi augmented reality untuk overlay panduan gerak real-time; ketiga, penggunaan baterai graphene berkapasitas tinggi sehingga masa pakai mencapai 72 jam; dan keempat, pembelajaran federasi agar data gerakan pengguna di seluruh dunia dapat digunakan untuk meningkatkan model tanpa membahayakan privasi. Ia juga tengah berdiskusi dengan regulator FDA, EMA, dan BPOM untuk jalur regulasi yang dipercepat bagi teknologi limb-AI. Di bidang policy, ia aktif memberi masukan kepada PBB dalam revisi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) agar akses terhadap prostetik berbasis AI diakui sebagai hak asasi manusia. Sarah percaya bahwa perubahan sosial akan terjadi ketika stigma difabel tidak lagi berkutat pada “kurangnya kelengkapan tubuh”, melainkan pada “kurangnya akses teknologi”. Ia sering menyampaikan analogi: “Jika kacamata dianggap wajar membantu penglihatan, maka prostetik AI pun harusnya dipandang sama—sebagai alat yang memperluas kemanusiaan, bukan sekadar alat bantu.” Pada Juni 2024, majalah Fortune memuat profil lengkapnya dengan judul “The Woman Who Turned Tragedy Into Technology Triumph”, menggambarkan bagaimana ia memanfaatkan AI untuk membuka jalan bagi transformasi industri prostetik global. Artikel tersebut memicu lonjakan minak investor; hingga September 2024, ANLA telah mengamankan komitmen pendanaan seri A sebesar USD 28 juta, termasuk dukungan dari Google.org, Amazon Future Engineers, dan berbagai dana filantropi keluarga kerajaan Eropa. Sarah tetap rendah hati: “Saya tak pernah berencana menjadi ikon. Saya hanya ingin memegang tangan anak-anak saya, memeluk suami saya, dan menolong jutaan orang lainnya untuk meraih versi terbaik dari kehidupan mereka. Jika AI bisa menjadi jembatan, maka kita wajib membangunnya selebar-lebarnya agar tak seorang pun terpapar jurang keputusasaan.”

Ingin merasakan kekuatan transformasi digital yang membumi di sektor kesehatan, edukasi, maupun manufaktur? Bergabunglah dengan Morfotech, perusahaan solusi teknologi Indonesia yang menyediakan pengembangan AI, aplikasi web & mobile, IoT, serta integrasi sistem berbasis cloud. Dari konsep hingga implementasi, tim Morfotech siap menemani organisasi Anda menciptakan produk yang relevan, hemat biaya, dan berkelanjutan. Konsultasi gratis hanya di https://morfotech.id atau WhatsApp +62 811-2288-8001—karena inovasi tak kenal batas, dan masa depan adalah milik mereka yang berani memulai hari ini.

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Sabtu, September 27, 2025 7:00 AM
Logo Mogi