Asia Stocks Bergelut dengan Teknologi Jitters, China Tetap Percaya Diri di Jalur AI Sendiri
Pasar saham Asia berakhir pada mayoritas negatif pada hari Senin, 2 September 2024, setelah investor melakukan aksi profit-taking terhadap saham teknologi Jepang yang sebelumnya melonjak tinggi. Indeks Nikkei 225 turun 1,4 persen, tertekan oleh penurunan harga saham SoftBank Group, Advantest, dan Tokyo Electron yang selama sepekan terakhir menyentuh level tertinggi baru. Sentimen risk-off ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa valuasi sektor teknologi telah terlalu mahal, sehingga menimbulkan arus keluar modal asing sebesar 45,2 miliar yen. Di sisi lain, pasar saham China justru bergerak stabil dengan indeks Shanghai Composite naik 0,9 persen, didorong oleh optimisme terhadap pengembangan ekosistem kecerdasan buatan buatan dalam negeri, termasuk kemajuan Alibaba dan Baidu dalam menghadirkan model AI generatif yang kompetitif.
Pelemahan yen terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai level 147,8 memberi tekanan tambahan terhadap kinerja ekspor Jepang, terutama di sektor teknologi yang sangat bergantung pada permintaan global. Data terbaru menunjukkan bahwa laba bersih SoftBank Group secara kuartalan turun 23 persen, meskipun pendapatan Vision Fund naik tipis 2 persen. Sementara itu, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih sebesar 3,1 triliun yen di bursa Tokyo, angka tertinggi sejak Juni 2024. Di Tiongkok, arus masuk modal asing justru meningkat menjadi 12 miliar dolar AS dalam sepekan terakhir, didorong oleh potensi pertumbuhan industri AI domestik yang diproyeksi mencapai 1 triliun yuan pada tahun 2030. Kebijakan baru Beijing untuk melonggarkan pembatasan modal asing di sektor teknologi juga menjadi katalis positif. Faktor lain yang memengaruhi sentimen pasar adalah harapan bahwa Federal Reserve akan menahan kenaikan suku bunga di pertemuan bulan September, sehingga mendorong aliran modal ke emerging markets, termasuk China.
Data ekonomi yang akan dirilis Amerika Serikat pekan ini mencakup laporan ketenagakerjaan non-pertanian (NFP), indeks manufaktur ISM, dan pidato Ketua Fed Jerome Powell pada konferensi Jackson Hole. Jika data NFP menunjukkan pelemahan di bawah 150 ribu, maka peluang Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25-50 basis poin akan semakin besar. Reaksi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga biasanya positif untuk aset berisiko seperti saham dan komoditas, namun berpotensi menekan dolar AS. Di sisi lain, keputusan pengadilan AS yang menolak kembali kebijakan tarif import Trump terhadap produk China memicu ketidakpastian baru, karena hal ini bisa mengganggu rantai pasokan global dan menaikkan biaya perdagangan. Volatilitas pasar mata uang juga meningkat, dengan indeks DXY turun 0,3 persen ke level 101,5, sementara emas naik 1,2 persen ke 2.520 dolar AS per troy ounce sebagai aset safe haven. Harga minyak mentah Brent sempat turun 0,8 persen ke 78,2 dolar AS per barel karena kekhawatiran permintaan China yang melambat, namun kemudian pulih menjelang penutupan.
Sektor teknologi global menghadapi tantangan baru akibat ketidakpastian regulasi AI di Amerika Serikat dan Eropa. Rencana regulasi baru Uni Eropa mengenai model AI besar (large language models) menambah tekanan bagi perusahaan seperti Google, Microsoft, dan OpenAI untuk mematuhi standar ketat transparansi data. Sementara itu, China justru mempercepat pengembangan AI domestik melalui dukungan pemerintah, termasuk subsidi riset hingga 5 miliar yuan untuk perusahaan yang berhasil menciptakan model AI dengan performa setara GPT-4. Alibaba Cloud baru saja meluncurkan model Tongyi Qianwen 3.0 yang diklaim setara dengan performa GPT-4 Turbo, namun dengan biaya operasional 60 persen lebih murah. Di Korea Selatan, Samsung Electronics mengumumkan rencana investasi 20 miliar dolar AS untuk pembangunan pabrik chip AI di Hwaseong hingga tahun 2030. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) juga mempertahankan outlook positif dengan permintaan chip AI yang diproyeksi tumbuh 35 persen tahun ini, didorong oleh kebutuhan data center dan perangkat edge computing.
Prospek jangka menengah pasar saham Asia tetap positif, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan potensi pertumbuhan sektor teknologi generatif. Strategi investasi yang disarankan adalah rotasi sektoral dari saham teknologi Jepang yang sudah mahal ke saham AI China dan Korea Selatan yang masih undervalued. Beberapa saham yang layak diperhatikan antara lain: China Mobile (dividen yield 7,8 persen), JD Health (potensi kenaikan 25 persen), dan Samsung SDI (target harga 550.000 won). Di Jepang, investor bisa mempertimbangkan value stocks seperti Mitsubishi UFJ Financial Group (P/E 8x) dan NTT Data (dividen yield 3,2 persen). Untuk diversifikasi, investor juga bisa menambahkan exposure emas melalui ETF SPDR Gold Shares (GLD) atau komoditas energi seperti ExxonMobil. Risiko utama yang perusian diperhatikan adalah potensi hard landing ekonomi China akibat krisis properti, serta eskalasi konflik geopolitik di Asia Tenggara yang bisa menekan sentimen pasar secara regional.
Ingin mengoptimalkan teknologi informasi bisnis Anda? Percayakan kepada Morfotech, penyedia solusi IT profesional di Indonesia. Dengan layanan cloud server, pengembangan aplikasi, hingga keamanan siber, tim berpengalaman kami siap membantu transformasi digital perusahaan Anda. Hubungi Morfotech di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi https://morfotech.id untuk konsultasi gratis hari ini!