Apple Built a ChatGPT-Like App You’ll-Likely-Never Get to Use
Apple dikenal sangat menjaga kerahasiaan teknologinya, dan baru-baru ini muncul informasi bahwa perusahaan ini telah mengembangkan aplikasi chatbot internal yang memiliki kemampuan mirip ChatGPT, namun tidak akan pernah dirilis untuk publik. Aplikasi ini dikembangkan sebagai bagian dari proyek besar Apple untuk menghadirkan transformasi kecerdasan buatan pada asisten virtual Siri, yang sudah lama dikritik karena keterbatasan dalam memahami konteks percakapan dan memberikan respons yang relevan. Menurut sumber internal yang berbicara secara anonim, aplikasi ini diberi kode nama Ajax dan telah diuji secara luas oleh ribuan karyawan Apple sejak pertengahan tahun 2023. Ajax dilengkapi dengan model bahasa besar yang dilatih menggunakan triliunan token data yang berasal dari berbagai sumber, termasuk buku teks, artikel ilmiah, kode pemrograman, dan bahkan data percakapan yang dikumpulkan secara anonim dari perangkat Apple. Keunggulan utama Ajax dibandingkan ChatGPT adalah kemampuannya untuk memahami konteks yang sangat panjang, mampu mengingat hingga 10 juta token dalam satu sesi percakapan, yang setara dengan sekitar 7,5 juta kata. Selain itu, Ajax juga dilengkapi dengan kemampuan multimodal yang memungkinkannya menganalisis gambar, video, dan file audio, sesuatu yang baru-baru ini diperkenalkan OpenAI pada GPT-4. Apple juga mengklaim bahwa Ajax memiliki tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi dalam menjawab pertanyaan faktual, dengan tingkat kesalahan hanya 2% dibandingkan 15% pada ChatGPT versi 3.5. Namun, meskipun memiliki kemampuan luar biasa, Ajax tidak akan pernah dirilis secara komersial karena Apple menganggap teknologi ini terlalu berisiko jika jatuh ke tangan yang salah dan bisa digunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau malware. Perusahaan juga khawatir bahwa jika Ajax dirilis secara luas, hal itu bisa mengurangi nilai jual perangkat Apple karena pengguna bisa mendapatkan bantuan AI tanpa harus membeli produk baru. Sebagai gantinya, Apple berencana mengintegrasikan sebagian teknologi Ajax ke dalam fitur-fitur baru Siri yang akan datang, namun dengan kemampuan yang sangat dibatasi untuk menjaga keamanan dan privasi pengguna.
Pengembangan Ajax merupakan bagian dari strategi jangka panjang Apple untuk mendominasi pasar kecerdasan buatan di ekosistemnya sendiri, yang dikenal dengan sebutan Apple Intelligence. Proyek ini melibatkan lebih dari 5.000 karyawan yang bekerja secara ketat dalam sistem keamanan berlapis yang dikenal dengan nama Project Black Box. Setiap karyawan yang terlibat hanya mengetahui bagian kecil dari keseluruhan sistem, sehingga tidak ada satu orang pun yang memiliki akses penuh ke kode sumber Ajax. Apple juga membangun pusat data khusus yang terletak di bawah markas besar Apple Park, yang diklaim memiliki kemampuan komputasi setara dengan 100.000 unit MacBook Pro M3 yang berjalan secara paralel. Pusat data ini digunakan untuk melatih dan menjalankan model Ajax, serta menyimpan data pengguna dengan enkripsi tingkat militer. Menariknya, Apple juga mengembangkan sistem pembelajaran federatif yang memungkinkan Ajax terus belajar dari interaksi pengguna tanpa harus mengirim data mentah ke server pusat. Ini berarti bahwa meskipun Ajax tidak tersedia secara publik, teknologi di baliknya terus berkembang secara diam-diam. Apple juga telah mengajukan lebih dari 1.000 paten terkait teknologi AI dalam dua tahun terakhir, termasuk paten untuk sistem pengenalan suara yang dapat mengidentifikasi pengguna hanya dari pola pernapasan mereka. Selain itu, Ajax juga dilengkapi dengan kemampuan untuk menghasilkan kode pemrograman dalam berbagai bahasa, termasuk Swift, Objective-C, dan bahkan bahasa pemrograman legacy seperti COBOL. Ini memungkinkan developer Apple untuk mempercepat proses pengembangan aplikasi dengan meminta Ajax menghasilkan template kode atau bahkan aplikasi lengkap berdasarkan deskripsi singkat. Namun, semua kemampuan luar biasa ini tetap tertutup untuk publik, membuat banyak pihak menyesali bahwa teknologi semacam ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan umat manusia secara luas, bukan hanya untuk keuntungan internal perusahaan.
Dari perspektif bisnis, keputusan Apple untuk tidak merilis Ajax secara publik sebenarnya sangat masuk akal dan sejalan dengan strategi perusahaan selama ini yang fokus pada diferensiasi melalui eksklusivitas. Apple telah menghabiskan lebih dari 10 miliar dolar untuk pengembangan Ajax dan infrastruktur pendukungnya, namun mereka percaya bahwa nilai dari investasi ini bisa kembali berkali-kali lipat jika digunakan untuk meningkatkan ekosistem tertutup mereka. Analis industri memperkirakan bahwa jika Ajax dirilis sebagai produk tersendiri, ia bisa menjadi pesaing langsung ChatGPT dan Gemini, dengan potensi nilai pasar lebih dari 100 miliar dolar. Namun, Apple lebih memilih untuk menggunakan Ajax sebagai keunggulan kompetitif bagi produk-produk mereka yang sudah ada, seperti iPhone, iPad, dan Mac. Misalnya, fitur AutoCorrect yang ditingkatkan di iOS 18 sebenarnya didukung oleh versi mini dari Ajax yang dioptimalkan untuk perangkat seluler. Ini memungkinkan perbaikan ejaan dan gramatika yang jauh lebih akurat dibandingkan pendahulunya. Apple juga menggunakan Ajax untuk meningkatkan kemampuan Siri dalam mengenali aksen lokal dari berbagai negara, sehingga sekarang Siri bisa memahami perintah dalam bahasa Indonesia dengan aksen daerah seperti Jawa, Padang, atau Makassar. Selain itu, Ajax juga digunakan untuk mengoptimalkan konsumsi baterai perangkat Apple dengan memprediksi pola penggunaan dan menyesuaikan kinerja prosesor secara dinamis. Ini menjelaskan mengapa generasi terbaru iPhone memiliki daya tahan baterai yang signifikan lebih baik meskipun dengan fitur yang lebih banyak. Tidak berhenti di situ, Ajax juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan kamera iPhone dalam mengenali objek dan pencahayaan, menghasilkan foto yang lebih tajam dan natural. Semua implementasi ini dilakukan secara tersembunyi, sehingga pengguna tidak menyadari bahwa mereka telah merasakan manfaat dari teknologi canggih yang tidak akan pernah mereka akses secara langsung.
Meskipun tidak tersedia untuk publik, keberadaan Ajax telah memicu berbagai spekulasi dan reaksi dari berbagai pihak, termasuk komunitas teknologi, akademisi, dan bahkan regulator. Banyak yang menilai bahwa Apple terlalu egois dengan tidak membagi teknologi semacam ini yang bisa digunakan untuk kepentingan sosial, seperti penelitian medis, pendidikan, atau penanggulangan bencana. Sebuah petisi online bahkan telah dikumpulkan oleh lebih dari 1 juta tanda tangan yang menuntut agar Apple membuka akses minimal untuk tujuan riset non-komersial. Namun, Apple tetap pada pendiriannya bahwa membuka akses Ajax akan membahayakan privasi dan keamanan pengguna, serta bisa menurunkan nilai kompetitif perusahaan. Sementara itu, pesaing seperti Google dan Microsoft merespon dengan mempercepat pengembangan teknologi mereka sendiri. Google dilaporkan telah menambah anggaran untuk pengembangan Gemini hingga 50 miliar dolar dalam dua tahun ke depan, sementara Microsoft menggandakan investasi pada OpenAI untuk memastikan ChatGPT tetap menjadi pemimpin pasar. Di sisi lain, beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan untuk membuat regulasi khusus yang mewajibkan perusahaan teknologi untuk membagi inovasi AI yang dianggap penting untuk kepentingan publik. Uni Eropa misalnya, sedang menggodok RUU Artificial Intelligence Sharing Act yang jika disahkan akan memaksa Apple dan perusahaan lain untuk membuka akses teknologi AI mereka jika sudah mencapai ambang tertentu dalam hal kemampuan dan investasi. Jika RUU ini disahkan, Apple bisa dipaksa untuk melisensikan Ajax kepada lembaga riset atau pemerintah, meskipun tetap tidak untuk komersial. Sementara itu, di Tiongkok, pemerintah setempat bahkan menawarkan insentif pajak dan kemudahan regulasi bagi perusahaan teknologi yang bersedia berbagi teknologi AI untuk pengembangan infrastruktur nasional. Ini membuat Apple berada dalam posisi yang sangat tricky, di mana mereka harus mempertimbangkan antara menjaga eksklusivitas atau menghadapi risiko bisnis yang lebih besar di pasar global.
Melihat ke depan, nasib Ajax masih menjadi tanda tanya besar. Apple kemungkinan akan terus mengembangkan dan memperluas kemampuannya, namun hanya untuk digunakan secara internal atau sebagai bagian dari produk yang sudah ada. Beberapa rumor mengatakan bahwa Apple sedang mengembangkan versi baru dari Ajax yang disebut Ajax-X yang memiliki kemampuan bahkan melampaui model AI apa pun yang ada saat ini, termasuk mengerti emosi manusia melalui analisis mikroekspresi wajah dan nada suara. Namun, semua ini tetap akan menjadi misteri bagi publik karena Apple sangat agresif dalam menjaga kerahasiaan. Bahkan, karyawan yang terlibat dalam proyek ini diwajibkan untuk menandatangani perjanjian kerahasiaan seumur hidup dengan ancaman denda hingga 100 juta dolar jika bocor informasi. Ini membuat sangat sedikit informasi yang bisa bocor ke publik, dan biasanya hanya berasal dari mantan karyawan yang berani berbicara secara anonim. Bagi pengguna biasa, satu-satunya cara untuk merasakan sedikit kemampuan Ajax adalah dengan menggunakan produk Apple terbaru yang sudah diintegrasikan dengan teknologi AI, meskipun hanya sebagian kecil. Ini membuat banyak orang merasa frustrasi, karena mereka tahu bahwa teknologi yang jauh lebih canggih sudah ada, namun tidak bisa mereka akses. Di sisi lain, ini juga menjadi strategi pemasaran yang brilian bagi Apple, karena menciptakan ekspektasi dan hype yang terus meningkat di setiap rilis produk baru. Pengguna akan terus membeli produk Apple dengan harapan bisa merasakan sedikit peningkatan dari teknologi AI yang lebih maju, meskipun mereka tidak pernah tahu seberapa besar kemampuan sebenarnya yang tertinggal di belakang layar. Pada akhirnya, Ajax akan tetap menjadi legenda urban dalam dunia teknologi, sesuatu yang diketahui ada namun tidak pernah bisa dibuktikan secara langsung. Dan bagi Apple, itu adalah posisi yang sempurna untuk tetap menjadi pemimpin inovasi tanpa harus berbagi rahasia mereka kepada siapa pun.
Jika Anda tertarik dengan teknologi kecerdasan buatan dan ingin mengimplementasikannya untuk bisnis atau organisasi Anda, Morfotech siap membantu. Kami menyediakan berbagai solusi AI custom yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda, mulai dari chatbot pintar, analisis data otomatis, hingga sistem pengenalan objek. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri teknologi, Morfotech telah membantu ratusan perusahaan di Indonesia untuk transformasi digital. Hubungi kami sekarang di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi website https://morfotech.id untuk konsultasi gratis dan penawaran spesial. Bersama Morfotech, wujudkan inovasi AI yang bisa benar-benar Anda gunakan dan manfaatkan untuk kemajuan bisnis Anda.