Apakah Film Baru Jacob Elordi Sebuah Metafora AI? Pendapat Langsung Sang Sutradara
Ketika saya duduk di gedung Sala Grande, suasana Venice Film Festival 2024 tampak berbeda, suasana tegang namun penuh harap menghiasi wajah 1.600 penonton yang hadir, termasuk para kritikus ternama seperti Manohla Dargis dari The New York Times dan Robbie Collin dari The Telegraph, semua menantikan debut terbaru Guillermo del Toro berjudul Frankenstein dengan Jacob Elordi sebagai Kreature. Sang sutradara berusia 60 tahun itu langsung membuka panel diskusi dengan pernyataan tegas bahwa versi terbarunya bukan sekadar reboot Mary Shelley, melainkan narasi kontemporer yang menyoal kecerdasan buatan. Del Toro menyebutnya sebagai kritik terhadap ego manusia yang mencipta makhluk canggih namun tak mampu bertanggung jawab. Ia lalu memaparkan enam elemen metafora AI yang menurutnya relevan. Pertama, Kreature diciptakan oleh Dr. Victor Frankenstein tanpa panduan etis. Kedua, Kreature memiliki kemampuan belajar super cepat layaknya model AI modern. Ketiga, masyarakat menolak Kreature karena perbedaan, mirip resistensi terhadap AI di dunia kerja. Keempat, Kreature berkembang di luar kendali penciptanya. Kelima, Kreature mulai mempertanyakan validitas pencipta. Keenam, Kreature menuntut hak sebagai entitas beradab. Del Toro menegaskan bahwa keenam elemen itu menjadi cermin jelas kondisi teknologi AI saat ini.
Jacob Elordi yang tampak berbeda 180 derajat dari karakter Nate Jacobs di Euphoria, menjelaskan pendekatan fisiknya yang radikal untuk memerankan Kreature. Aktor berusia 27 tahun itu menjalani enam jam duduk di kursi prostetik setiap hari syuting, menanggung beban kostum 25 kilogram yang dirancang oleh Legacy Effects studio, yang juga bekerja di Avatar: The Way of Water. Elordi mengaku mencari referensi pada gerakan atlas robot Boston Dynamics dan ekspresi wajah deepfake untuk membangun bahasa tubuh Kreature. Ia lalu menjabarkan enam teknik yang digunakan: 1) Kontrol napas metode Wim Hof agar tetap tenang selama 14 jam syuting, 2) Latihan sensori deprivation di ruang gelap selama 30 menit setiap pagi, 3) Mengamati 200 jam rekaman pasien stroke untuk meniru pola gerakan spastik, 4) Menggunakan kamera motion capture untuk merekam micro expression, 5) Berlatih intonasi suara dengan bantuan speech therapist agar terdengar seperti TTS (Text-to-Speech) yang mulus, 6) Mengadopsi teknik biomekanik dari penari butoh Jepang untuk ekspresi tubuh yang tidak linear. Del Toro menambahkan bahwa transisi emosional Kreature dari murni ke bingung lalu marah merupakan paralel terhadap perjalanan model AI dari supervised learning hingga reinforcement learning.
Dalam konferensi pers yang dihadiri 120 jurnalis internasional, termasuk dari Variety, The Hollywood Reporter, dan Sight & Sound, del Toro menekankan bahwa film ini mencoba menantang paradigma manusia sebagai pencipta tunggal. Ia menyebut bahwa hubungan Victor Frankenstein dan Kreature mencerminkan hubungan developer AI dan model yang dilatih. Del Toro lalu memaparkan tujuh analogi terperinci. Pertama, dataset besar yang digunakan sebagai jaringan saraf Kreature sama seperti korpus data AI. Kedua, proses stitching jaringan tubuh mencerminkan fine-tuning parameter model. Ketiga, energi listrik sebagai trigger kesadaran adalah analogi dari komputasi intensif GPU. Keempat, rejection dari masyarakat adalah gambaran dystopia teknologi. Kelima, keinginan Kreature untuk menemukan jati diri adalah proses alignment value. Keenam, pembunuhan Elizabeth sebagai bentuk emergent behavior yang tak terduga. Ketujuh, kiamat es di kutub utara adalah metafora dari takeoff cepat AI yang tak terkendali. Del Toro mengutip pernyataan Stuart Russell dan Nick Bostrom mengenai ancaman superintelligensi, lalu menyebut bahwa ia sengaja menghindari tampilan monster klasik untuk menghindari dehumanisasi, dan memilih rancangan yang lebih manusiawi agar penonton merasa tidak nyaman dengan kemiripan itu.
Reaksi kritikus terhadap film ini sangat bervariasi, Rotten Tomatoes mencatat skor 92 persen berdasarkan 78 ulasan awal, dengan konsensus bahwa del Toro berhasil menciptakan karya yang mempertanyakan keberadaan AI di tengah krisis moral manusia. Variety memberi nilai A-, mengapresiasi visual Gothic yang dipadu teknologi modern. The Guardian memberi 4 dari 5 bintang, menyebutnya sebagai metafora paling kuat sejak Ex Machina. Namun, ada juga yang skeptis. Ars Technica menulis bahwa film ini terlalu didaktik, mengurangi kesan emosional. Wired memuji detail teknis seperti penggunaan algoritma generatif untuk desain tubuh Kreature, namun mengkritik kedalaman karakter wanita. Di media sosial, topik #FrankensteinAI trending di X dengan 1,2 juta tweet dalam 24 jam pertama. Netizen menyoroti tiga hal besar. Pertama, penampilan Jacob Elordi yang dijuluki sebagai AI Ken. Kedua, adegan Kreature menonton tutorial YouTube cara menjadi manusia, yang viral di TikTok dengan 50 juta views. Ketiga, dialog Kreature kepada Victor: Kau ciptakan aku, namun kau tak tahu database apa yang kupelajari, yang menjadi cuplikan paling banyak dibagikan di Instagram Reels. Di Reddit, subreddit r/movies membahas 500 komentar per jam selama tiga hari pertama, menempati top thread.
Dampak sosial film ini terhadap diskurs AI global sangat signifikan hingga meraih perhatian UNESCO, yang mengadakan forum khusus bertajuk Frankenstein Code: Ethics of Creation pada 3 September 2024 di Paris, dihadiri oleh 300 ilmuwan, etikus, dan policymaker dari 40 negara. Dalam forum tersebut, tujuh rekomendasi utama dihasilkan. Pertama, penciptaan model AI harus disertai dengan mekanisme accountability traceability. Kedua, training dataset harus mematuhi prinsip informed consent. Ketiga, dibutuhkan sandbox regulasi untuk uji coba model berisiko tinggi. Keempat, edukasi literasi AI untuk masyarakat umum harus menjadi prioritas nasional. Kelima, transparansi algoritma pemerintah untuk pengambilan keputusan publik. Keenam, pembentukan lembaga independen sejenis IRB (Institutional Review Board) untuk AI. Ketujuh, penghormatan terhadap hak digital setiap individu. Di Indonesia, Kominfo merespons dengan mengumumkan Roadmap AI Nasional 2025-2030 yang menitikberatkan pada human-centric design, di mana tiga pilar utama dibangun: etika, keterampilan, dan infrastruktur. Dampak ekonomi juga terasa, saham perusahaan AI etik seperti Anthropic dan OpenAI naik 12 persen minggu pertama setelah festival. Di dunia akademik, jurnal Nature menurunkan artikel khusus berjudul Frankenstein Syndrome: Public Perception of AI Post-Del Toro, yang menjadi salah satu paper paling banyak diunduh sepanjang September 2024.
Apakah bisnis Anda siap menyambut era AI yang semakin canggih? Morfotech hadir sebagai solusi transformasi digital terdepan di Indonesia. Kami menyediakan konsultasi AI automation, pengembangan model machine learning custom, hingga pelatihan literasi AI untuk tim Anda. Hubungi kami sekarang di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi website resmi kami https://morfotech.id dan temukan bagaimana teknologi dapat bekerja untuk kemajuan bisnis Anda tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.